Senin, 20 Oktober 2014

Untuk D I A



Namanya D I A. Dia adalah ceritaku selama masa remaja yang aku lalui sebagai pelajar.
Iya, dia adalah cerita ku semasa SMA di tahun 2008. Dia alasanku semangat untuk datang ke sekolah.
Setelah dua minggu menggunakan seragam putih abu-abu, disitulah pertama kali aku melihat dia berada dalam lingkungan sekolah yang sama tapi dalam gedung yang berbeda, dan dengan kejuruan yang berbeda pula. Dia teknik otomotif dan aku akuntansi.

Tak lama setelah aku melihat dia, kemudian kita saling kenal, dan setelah itu rasanya hariku tak sama lagi, semua terasa menyenangkan layaknya remaja yang sedang jatuh cinta.

Waaaaaw jatuh cinta?

Iya, aku memang sering memperhatikan dia selama aku di SMP. Iya, kami pun dulu berada dalam sekolah menengah pertama yang sama, dia adalah kakak kelas ku sewaktu SMP. Aku memang sudah sering memperhatikan dia, setiap pagi dia yang selalu melalui jalan depan kelasku untuk menuju kelas dia. Akupun sempat bertanya pada teman dan mencari tahu sedikit tentang dia. Tapi hanya sekedar itu, tak ada pikiran lebih atau bahkan sampai bisa mengenal dia.

Satu tahun berlalu, dan dia pastinya sudah tak berada dalam sekolah yang sama. Iya, sewaktu aku sering melihat dia, aku berada di kelas delapan dan dia di kelas Sembilan. Terpaut satu tahun.

Satu tahun berlalu lagi, aku lulus dari Sekolah menengah pertama dan melanjutkan pendidikanku di sekolah kejuruan suwasta. Namun siapa sangka, disana aku malah melihat sosok dia lagi yang selama satu tahun terakhir tak pernah ku lihat dan tak pernah terpikirkan lagi olehku.

Dia ada dan sangat nyata, dan aku melihat dia…lagi.

Dia..oh rasanya janutungku selalu berdegup lebih kencang setiap kali melihat dia, bahkan dari balik pojok jendela kelas yang tak mungkin bisa dia jangkau. Aku sering memperhatikan dia, sudut mata selalu tak terarah ketika pandangan ku belum melihat sosok itu. Sampai akhirnya, aku merasa beruntung dia mau mengenalku atas kejadian pulang sekolah yang sangat memalukan untukku. Tapi tak ku sangka, disitulah awal perkenalan kami. Dia meminta no hp ku melalui teman ku. Dan sejak hari itu, kita saling mengenal. Kita dekat, tapi hanya melalui hand phone. Haaah bodohnya aku yang tak pernah berani mendekat ketika melihat dia. Entah syndrome macam apa itu, hatiku ciut bergetar tak beraturan, tak sanggup jika melihat dia secara dekat dan lebih jelas, untuk beradu pandang dalam jarak jauh saja, rasanya aku tak sanggup, aku terlalu takut.

Hanya hp sarana komunikasiku dengan dia, aku merasa begitu dekat dengan dia tapi hanya melalui hp. Untuk real life, bertemu dia saja aku tak berani. Aku hanya mampu memandang dia, dari jarak yang benar-benar jauh dan tak terjangkau oleh dia. Melihat dia ada meski dari kejauhan, itu rasanya sudah cukup menjadi semangat untukku. Setiap hari, setiap malam kami selalu berkirim pesan.
Oh..dia, rasanya satu hari saja aku tak mendapatkan pesan dari dia, hati dan mood ku bisa sangat gusar, kacau tak beraturan. Disitu aku sadar, aku menyukainya, aku telah jatuh cinta sejatuh-jatuhnya terhadap dia.

Hari, minggu, bulan, kedekatan kita berlalu hanya melalui hp. Tapi, pernah beberapa kali kita berangkat sekolah dalam satu angkutatn umum yang sama, dia benar-benar membuatku tak tahu harus bersikap normal. Kami hanya dekat, aku tak pernah tahu perasaan dia terhadapku seperti apa. Sampai pada akhirnya, dia menghilang entah kemana, tak pernah ada kabar lagi dari dia. Itu pertama kalinya aku patah hati atas kedekatan kami yang tanpa setatus.

“wajar saja dia meninggalkan ku, toh kita memang hanya dekat dari hp dan tanpa status”.

Pada saat itu, aku benar-benar merasa galau, aku benar-benar kacau. Dia pergi tanpa aku pernah tahu bagai mana perasaan dia terhadapku. Dan untuk kali pertama juga, aku menangis karena cinta sepihak yang ku rasakan sendiri ini. Sedih…pedih! Setiap hari dan setiap malam selalu berkirim pesan dengannya, kini dia menghilang entah keman. Saat tidur, aku selalu terbangun tengah malam hanya sekedar untuk mengecek hp ku, berharap ada pesan dari dia, tapi nihil.

Satu minggu berlalu, dia benar-benar tak ada kabar, dan aku seperti biasa, aku tak pernah berani untuk menghubunginya terlebih dahulu. Hari, minggu, bulan pun berlalu, aku sudah terbiasa lagi tanpa pesan dari dia. Tapi aku tetap melihat dia dari kejauhan, dia ada..dia masih ada. Dan…ahsudalah, aku tak ingin mengingat dia lagi. Namun siapa sangka, setelah menghilang beberapa bulan, dia menghubungiku lagi seperti tanpa dosa, dan aku dengan senang hati menyambut dia kembali.

Kami seperti dulu lagi, yaa seperti dulu.. kedekatan tanpa status. Malam tahun baru 2010 tiba, dia mengajakku dan menjemputku dirumah, kami menghabiskan malam pergantian tahun itu bersama, itu malam pertama dan terakhir yang bisa ku habiskan bersama dia, karena setelah itu, dia menghilang bagai di telan bumi. Sakit rasanya diperlakukan seperti itu dengan orang yang kita suka. Sejak malm itu, kedekatan kita benar-benar berakhir, dan itu untuk yang ketiga kalinya dia menghilang tanpakabar.

Semua selesai, tak ada lagi aksara-aksara indah yang dia kirimkan dalam pesan, tak ada lagi sapaan-sapaan yang sederhana namun membuat semangat, tak ada lagi canda tawa setiap malam. Berakhir..semua benar-benar berakhir sudah berakhir. D I A..dia tau aku menyukainya, tapi aku tak pernah tahu bagaimana perasaan dia terhadapku. Aku pikir, setelah tahun 2010 itu, kami benar-benar selesai, tapi ternyata tidak, dia hadir kembali di akhir tahun 2011, membuka sedikit kenangan selama masa sekolah kita. Iya..karena pada akhir tahun itu kita sudah tak memakai seragam putih abu-abu itu, kita sudah lulus dan melanjutkan perjalanan masing-masing. Aku sudah tak ingin berharap banyak tentang dia, dia berkali-kali meremukan hati yang sudah hampir sembuh, tapi aku malah dengan mudah selalu membiarkan dia menjatuhkan nya lagi. Sampai pada akhirnya, 11 Maret 2012, hubungan kami benar-benar berakhir.

Sampai hari ini, dia benar-benar menghilang entah kemana. Kami benar-benar lost contak, tak ada kabar dan tak akan ada cerita lagi antara aku dan dia.

D I A..terimakasih untuk kesediaan waktunya mau mengenal iin. Karena D I A iin banyak belajar mengenai cinta dan patah hati. D I A juga mengajari iin bertahan dalam kedaan cinta sepihak yang tanpa status. Bagaimanapun, D I A pernah memberi warna dalam hari-hari iin, menjadikan yang mendung menjadi cerah, dan membuat kecerahan itu seketika menangis. D I A maaf, sampai detik ini iin masih belum bisa menghapus bayangan D I A, sampai saat inipun D I A masih selalu menghiasi pikiran iin, dan setiap moment yang pernah terukir bersama rasanya kenangan itu akan selalu melekat dalam ingatan iin.
Terimakasih D I A.


cinta itu tak akan pernah pudar seperti apapun dia sudah membuat kau terluka dan kecewa, karena cinta yang tulus akan selalu punya alasan untuk memberinya maaf dan kesempatan”

Senin, 22 September 2014

About Me

Saya adalah pribadi yang cenderung moody. Kadang ada dalam kondisi yang ekspresif, kadang juga pasif. Saya mudah sekali berubah-ubah dan tidak stabil. Saya sangat menginginkan pasangan yang mampu mengenali suasana hati saya dengan baik dan mampu memposisikan dirinya dengan baik. Mungkin terkesan egois karena terlalu menuntut seperti itu. Tapi ini lebih menunjukan bahwa saya adalah orang yang sensitif, kadang dalam memutuskan sesuatu saya lebih mementingkan perasaan, sangat menghargai orang lain, tetapi seringkali tidak dapat bertindak karena terlalu memikirkan perasaan orang lain. Saya juga termasuk orang pemerhati, mungkin terlihat tidak perduli tapi sebenernya saya tahu apa yang sedang terjadi. Saya termasuk orang yang menerima apapun yang terjadi dengan baik, tidak terlalu memusingkan masalah. Saya juga cenderung ceroboh, tetutama dalam sebuah hubungan, sehingga saya sering menanggung konsekuensi dari kecerobohan saya sendiri. Terkadang saat saya merasa sendirian saya merasa teman dan keluarga saya tidak dapat menjadi pendengar yang baik meskipun mereka ada di samping saya.