Senin, 27 April 2015

Aku Menyukainya Dalam Diam

"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada"
~aku ingin - Sapardi Djoko Damono


Namanya ....... aku menyukainya. Semangat hidupnya, setiap pikiran positif yang selalu dia berikan. Aku tau rasa ini tak mungkin berbalas tapi aku menikmatinya. Aku menyukainya, aku mengaguminya. Biarlah rasa ini ku simpan di dasar hati terdalam, tak akan ku biarkan siapapun tahu, bahkan sebatang rumputpun rasanya aku tak ingin membiarkannya mengetahui rasa ini. Dia mampu mendobrak pertahanan hati yang selama ini ku tutup rapat.

Dalam diam aku hanya bisa memperhatikan dia, mengetahui dia ada, itu rasanya sudah cukup. Dia… rasanya begitu berbeda, bahkan aku sama sekali tak keberatan jika hanya menjadi tempat dia mengeluh disaat dia merasa bosan.

Seperti inikah rasanya jatuh cinta? Setelah sekian lama, rasanya aku baru merasakan lagi perasaan yang meletup-letup seperti ini. Rasanya seperti ada jutaan kupu-kupu yang beterbangan dalam hatiku setiap kita berkomunikasi, “teruslah bicara, suara dan rupamu adalah keindahan kecil, tetapi lebih elok daripada semesta” hatiku bergumam.  Cinta tak harus memiliki bukan? Aku menikamti setiap rasa ini. Indah…iyaa dia begitu indah.

Saat ada kesempatan untuk menghabiskan satu hari bersama, rasanya aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu, ada di dekat dia, berdiri di samping dia, rasanya itu sudah cukup.

Yang special dari tempat ini dalah dia, karena dia aku bisa berada disini.
Pesonanya bukan terletak pada parasnya, melainkan di hatinya.

24 April 2015, Curug Putri Pelangi.


Saat matanya bertemu mataku, aku sempat menatap bola matanya. Coklat. Sepasang bola mungil itu lebih indah dari pada taman. Bagiku, dia adalah kehangatan yang menjadikanku logam galium, meleleh pada suhu sehangat bahasa tubuhnya. Masih sulit ku percaya bisa menghabiskan satu hari bersama dia, bunga tidur itu mekar sungguhan di alam sadarku. Bahasa tubuhnya ku nikmati lagi dalam tatapan yang lebih wajar, geliat girangku ku sembunyikan di balik pengendalian diriku. Kontak fisik kecil yang dia ciptakan menjadi kejutan tersendiri bagiku, lebih hangat dari pada mimpiku.

Jatuh cinta itu untuk di rasakan, bukan di ceritakan. Mendefinisikan keangkuhan cinta yang dicerabut dari dalam dadamu oleh seseorang adalah rasa yang paling sulit di ungkapkan. Semua orang memiliki konsep dan rencana, hingga mereka jatuh cinta. Semua orang terlahir dengan akal sehat, hingga mereka jatuh cinta. Semua orang mengakui rumitnya matematika integral empat dan akuntansi rekonsiliasi delapan kolom, hingga mereka jatuh cinta. Seangkuh itu cinta.
~Rons Imawan


Maka begitulah aku, hanya mengaguminya dan mencintainya dalam diam. Aku menganggap kesempatan melihat dia sebagai dosis layaknya obat, membuatku bertahan dari menyedihkannya cinta sepihak.
 

Rasanya bermimpi untuk memiliki dia saja aku tak sanggup, bukan...bukan dia yang tak pantas untuk  ku, tapi aku yang tak pantas untuk seseorang yang sempurna seperti dia. Jadi biarlah rasa ini ku simpan sendiri, memperhatikannya dari jauh dan melihat setiap senyum yang mengembang darinya itu saja sudah cukup untuk ku.


Terimakasih Semesta, karena telah mempertemukan aku dengan dia yang begitu indah.

Aku tak akan pernah berharap, kau memiliki perasaan yang sama terhadapku. Aku akan mencintaimu dengan cara meremukkan harapan itu menjadi remah-remah roti yang siap di telan ayam.


.